Ketemu Dengan The Popo

the-popo-3

Ketemu The Popo di kelas komunikasi visual ruang publik yang di gagas oleh Akademi Berbagi (Akber) Jogja.

Eh gimana?

Sebetulnya ini adalah postingan yang mengendap cukup lama di draft blog saya ini, saat itu saya berkesempatan bertemu dengan The Popo di salah satu kelas Akademi Berbagi Jogja pada 23 Januari 2015 yang lalu. Saya sendiri emang sudah lama banget ngga ikutan kelas Akademi Berbagi (Akber) Jogja ini setelah era kepala sekolahnya si Nico Wijaya, tapi karena kali ini pematerinya adalah street artist idola saya maka sayapun menyempatkan diri untuk datang kesana.

Siapa yang tidak kenal dengan The Popo, karakter sederhana dengan tingkahnya yang usil. Mungkin sebagian dari kita familiar dengan “muka” The Popo tersebut yang biasa terpampang di jalanan – jalanan Jakarta dan berbagai spot menarik di Jogja. The Popo sendiri adalah ater ego dari mas Ryan Riyadi, yang menurut sodara beliau ini adalah cerminan dirinya sendiri.

Menurutnya karakter The Popo lahir karena keputus asaan mas Ryan untuk membuat gambar realis mukanya sendiri, akhirnya karakter sederhana tersebut tercipta. Muka bulat, mata besar dan sayu adalah ciri fisik mas Ryan begitu juga dengan The Popo. Karena itulah sodara beliau ini mengklaim bahwa karakter The Popo tersebut adalah cerminan dari dirinya.

the popo

Credit : Akber Jogja

Mas Ryan The Popo ini dari kecil emang suka nggambar dan sekarang juga sibuk menjadi salah satu pengajar komunikasi visual di salah satu universitas di Jakarta. Saat kuliah The Popo ini iri banget sama temen-temennya yang kuliah di jurusan seni di IKJ, sedangkan sodara beliau ini kuliah di jurusan komunikasi di salah satu kampus dekat IKJ. Tapi sodara beliau ini merasa beruntung banget dan berteman dengan banyak teman-teman dari dunia seni, nah dari sinilah sodara beliau ini belajar corat coret mural.

Dengan berbekal karakter gambar wajah realis yang menurutnya kacau tersebut, The Popo mulai “menggambari” setiap celah sudut kota Jakarta. Yang membedakan karya The Popo dengan yang lainnya adalah pesan – pesan kehidupan sosial yang sering diangkatnya. Meskipun banyak nakalnya, tapi lebih banyak juga pesan tersebut dikemas kedalam satire yang sangat epic. Protes – protes yang jenaka dan sekaligus bisa membuat kita berpikir. Lagi – lagi The Popo menghadirkan karya visualnya di ruang masyarakat dengan cerdas.

Nama The Popo sendiri menurut mas Ryan diambil dari kata “Positive Progress” yang disingkat menjadi Popo. Kata Popo menurutnya jadi sebuah doa kecil buat kehidupan dan karya-karyanya, dan sangat gampang untuk diingat, diucapkan sangat mudah dengan bunyi yang tetap sama oleh orang-orang dari negara mana pun.

POPO

Oh iya karya – karya The Popo ini bukan hanya mural loh, komik strip tiga baris dengan karakter meme Mat Kosim dan Ati Ampela Boys si anak SD yang jahil juga hasil karyanya. Sodara beliau ini sekarang juga gencar dengan campaign Helvukedh nya, semacam ajakan untuk mengkonsumsi buah alpukat karena alpukat sangat baik bagi tubuh kita.

BLBfJEXCMAA8kTR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest