Pencitraan Dan Pilihan 2 Tahun Kedepan

Membawa kesalahan lama ke depan semua mata
Salahkan nama tiap cerita
Tutupi fakta perbaiki citra

Kau dingin membeku, padam
Tak terlihat ada sesal
Sudah tertanam lama
Kau habiskan semua

Merasa sempurna seperti sedia kala
Sehambar maaf yang terucap
Merasa sempurna seperti sedia kala
Begitu sepi duniamu

Fakta Dan Citra, Monkey To Millionaire 

Barusan sebelum nulis ini iseng aja sih nonton berita politik di salah satu tv nasional, kaget juga ada anggota dewan yang mantan artis dan Putri Indonesia yang ketahuan korupsi tapi masih jadi idola masyarakat. Pengusaha kaya raya yang meninggalkan masalah banjir lumpur, digadang – gadang menjadi pemimpin negri ini.

Akupun sempet mikir, ada apa dengan masyarakat kita sekarang ini?

Sungguh media televisi akhir – akhir ini sangat tidak layak untuk disimak, semua pemberitaan mengarah ke hal negatif dan kekerasan. Yang culas jadi selebritis di mata masyarakat, yang bener – bener baik di halangi, difitnah dan dicari kesalahannya atas nama payung hukum.

Kalo baca sekilas lirik diatas, ini udah bener – bener terjadi saat ini. Meskipun ini masih Oktober 2012 dan masih 2 tahun lagi pemilihan Presiden, akan tetapi pencitraan sebagian elit politik udah mulai keliatan dari sekarang. Terlihat betapa ‘baiknya’ mereka digambarkan biar semua masyarakat terbius dan melupakan pengalaman pahit dimasa lalu. Udah seharusnya kita menolak lupa, pelajari semua track record para politisi yang kelihatannya akan maju sebagai calon pemimpin kita sehingga kita ngga akan salah pilih nantinya, 2 tahun kedepan.

Ah, semakin ribet mikirin mereka yang berebut kekuasaan, yang penting untuk kita saat ini jangan pernah terbius dengan penggambaran mereka di berbagai media.

Selamat malam.

2 Comments


  1. tertarik sama ini :
    “Sehambar maaf yang terucap
    Merasa sempurna seperti sedia kala”
    suka dengan pemilihan kata hambar
    keseringan emang kalau habis minta maaf, dimaafin terus malah melakukan kesalahan yang sama bahkan lebih jahat lagi 🙁
    dengan pemikiran masih berbekal stok maaf 🙂
    sayang ya kata yang harusnya bermakna malah jadi ga berasa dan lewat begitu aja

    Reply

  2. Iya mbak Okta, makanya hambar alias kesakralan kata maaf jadi ilang ngga ngga ada nilainya sama sekali. Terus berulang dan merasa paling benar, jika salah pun masih ada maaf yang lain. Itulah potret nyata di sekitar kita :’|

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *