Selamat Ulang Tahun Alessandro Nesta

Seorang bek hampir menjadi pahlawan karena tampil sempurna dalam 89 menit, namun akan dianggap pecundang jika di menit 90 timnya kebobolan. Sebaliknya, seorang striker bisa terlihat tidak berguna di lapangan selama 89 menit, lantas berubah menjadi pahlawan karena mencetak gol di menit 90 – Alessandro Nesta

Lazio adalah team yang saya idolakan pertama kali mungkin hingga saat ini, sebelum saya jatuh hati sama Chelsea. Sejak SD saya selalu mencari berita tentang Lazio, melalui koran jawa pos dan juga tabloid-tabloid olahraga kala itu.

Seakan saya tidak peduli sama sekali dengan prestasi Lazio kala itu dan kini. Sudah cukup senang masa kecil saya di hibur oleh permainan cantik dari para pemain Lazio. Masa kepelatihan Sven-Göran Eriksson merupakan masa terbaik Lazio. Tak henti – hentinya saya takjub dengan permainan penyerang semacam Marcelo Salas, Simone Inzaghi, Alen Bokšić, Roberto Mancini, Hernan Crespo dan Christian Vieri apalagi saat itu dengan dukungan pasokan bola dari banyak pemain legendaris dunia lainnya. Sebut saja Pavel Nedved, Sérgio Conceição, Juan Sebastian Veron, Matías Almeyda, Attilio Lombardo dan Dejan Stanković. Dibagian belakang pertahanan juga dijaga pemain – pemain besar lainnya yang berada di barisan depan penjaga gawang Angelo Peruzzi. Mereka adalah Paolo Negro, Giuseppe Favalli, Siniša Mihajlović, Fernando Couto.Tapi diantara mereka semua tak henti – hentinya saya memuji permainan super keren dari sang kapten dan pemain bek tengah Alessandro Nesta.

foto : goal.com
foto : goal.com

Ya, Alessandro Nesta emang bek terbaik yang pernah ada. Nesta salah satu pemain belakang yang punya tekel bersih dan teknik yang luar biasa dalam dribbling bola juga mampu membaca permainan lawan dengan baik seperti seorang playmaker di lini belakang. Nesta dibesarkan di Cinecitta di kota Roma, seperti umumnya orang Italia yang mengenal sepakbola sejak di sekolah dasar. Pernah suatu ketika bakat Nesta diamati oleh orang AS Roma, tapi ayahnya yang fans Lazio menolak tawaran tersebut. Akhirnya Nesta kemudian bergabung dengan akademi Lazio tahun 1985.

Nesta tampil pertama kali membela Lazio senior pada tahun 1994. Bersama Lazio, Nesta memenangkan Coppa Italia 1998, Piala Winners UEFA dan Piala Super Eropa 1999. Sukses besar ditangan asuhan Sven-Göran Eriksson tersebut berlanjut sampai Lazio memenangkan scudetto dan Coppa Italia di musim 1999-2000, juga dua gelar Piala Super Italia. Benar – benar prestasi yang fantastik buat Lazio kala itu.

Mungkin jika saja tidak terjadi krisis finasial pada tahun 2002-2003 di kubu Biancoceleste, sebutan Lazio, yang menyebabkan Nesta dijual ke AC Milan dengan nilai transfer sebesar 30 juta euro dan menjadikannya sebagai salah satu bek termahal dunia saat itu. Dengan berat hati Nesta pernah mengatakan mau dijual hanya semata – mata untuk menyelamatkan Lazio dari krisis finansial, hal itulah yang menjadikannya selalu di elu – elukan oleh Laziale se antero bumi.

Di Milan Nesta ikut berkontribusi dengan raihan 2 kali juara Liga Champion dan 2 kali Scudetto selama 10 tahun merumput di San Siro. Ada satu kejadian unik pada tahun 2009 sesaat setelah Paolo Maldini gantung sepatu. Nesta menolak untuk menjadi kapten Milan, padahal Nesta adalah salah satu kandidat kuat yang memiliki semua persyaratan untuk menjadi kapten. Alasannya sangat mulia, Nesta menolak karena semata-mata sebagai wujud kecintaan dan penghormatan kepada Lazio. Tapi pada Mei 2012, saat laga terakhirnya bersama Milan barulah Nesta mau menjadi Il Capitano untuk penghormatan terakhir kepada Milanisti.

Ketemu Alessandro Nesta Di Jakarta.

nesta-costa

moja-nesta latian farewell

Saya yang memang dari kecil Laziale ini, senengnya bukan main ketika mendapatkan kesempatan ketemu langsung sama idola saya dari kecil ini. Saat itu saya yang ikut tergabung di tim hore yang meliput kedatangan rombongan legenda sepakbola dunia yang bertandang ke Jakarta untuk melakoni laga melawan legenda sepakbola Indonesia. Pengennya bisa langsung mewawancarai Nesta, tapi nyatanya susah banget dan ngga apa – apa saya masih berkesempatan meet and great, melihat Nesta latian dari pinggir lapangan dan nonton langsung live dari belakang gawang Francesco Toldo.

Ada kejadian unik pada saat laga berlangsung, ketika itu stadion GBK yang dipenuhi para Milanisti tersebut terdapat 10 orang Laziale di sisi barat yang membawa spanduk bear bergambar wajah Alessandro Nesta dengan tulisan yang bikin saya trenyuh “Milan bought his talent, but not his heart”. Tidak sampai disitu saja, yang bikin saya meneteskan air mata adalah saat pertandingan baru selesai Nesta langsung menuju kearah 10 orang tersebut dan memberikan pernghormatan dan applause, satu orang Laziale tersebut melompat pagar dan memeluk Nesta sebelum akhirnya di lerai oleh petugas di lapangan.

Ah andai saja Lazio tidak mengalami krisis , Mungkin Nesta bisa menyandingi Francesco Totti sebagai pangeran sepakbola dari Roma. Tapi Alessandro Nesta tetap yang terbaik bagi saya, oh iya tanggal 19 Maret 2015 kemaren Nesta ulang tahun yang ke 39. Sudah tua sih tapi masih bermain bola di liga India.

Selamat ulang tahun il capitano. Buon Compleanno!

free wordpress themes

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *